Selasa, 16 September 2014





Tidak semua kita adalah sosok terkenal dan pribadi populer sebagaimana selebriti dan tokoh-tokoh bangsa. Tidak semua kita punya kelebihan yang fantastis dan luar biasa hingga selalu membuat decak kagum dan lantunan pujian tanpa henti. Ya, semua mereka mendapatkannya atas buah kerja keras walau ada diantaranya adalah warisan dari leluhurnya.

Tanpa kita sadari setiap yang kita lakukan adalah sebuah karya dari indera atau isi tubuh. Kadang berupa sesuatu yang besar dan tak jarang hanya hal-hal biasa yang dianggap angin lalu karena sebuah rutinitas dan memenuhi sesak hari-hari.

Para peneliti dan penemu tersohor yang melahirkan teori-teori dari berbagai bidang sampai hari ini masih menjadi rujukan orang yang entah berapa jauh rentang waktu hidup dengan usia zaman ini?. Para ulama yang menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan jalan keimanan, menjadi referensi umat lintas teritorial yang radiusnya begitu luas dan telah menyelamatkan berapa ratus orang dari jalan kesesatan?.
Lalu kita siapa dan punya apa?

Sehingga harus dikenang, punya sedikit karya yang terus bernafas walau usia didunia telah tertutup. Pernah mengerjakan sesuatu yang terus mengalirkan makna bagi pribadi dan orang lain walau kita taklagi dengan usia biologis.

Sebatang pohon rindang ditepi jalan tempat orang berteduh dikala terik mentari dan tempat anak-anak memanjat memetik buah ranumnya dikala musim. Cara penjumlahan atau perkalian yang sekedar iseng pernah kita sisihkan waktu untuk mengajari teman sebangku ketika sekolah, kini membawanya tak tertipu dalam menghitung uang. Sekantung darah yang kita donorkan, entah pada siapa karena lamanya tak teringat lagi nama sang penerima? Sampai kini sang penerima dapat sehat setelah operasi yang dilaluinya ketika sakit.
Kita mungkin bukan orang yang dianugerahi usia begitu panjang atau memiliki karya besar yang terkenal hingga seantero negeri. Namun, kita tetap punya cara-cara kecil yang biasa-biasa saja. Lukisannya terus ada walau telah tutup usia. 

Sekecil apapun karya dan sekelumit apapun goresannya selama masih dengan tinta niat yang benar  ia tetap adalah karya yang memiliki panjang “usia” melebihi umur personal setiap anak manusia.

Jafana Garden
25 Agustus 2013
IWAN Wahyudi

Senin, 28 Oktober 2013





Saat itu negeri dibawah genggaman seorang penguasa yang bertindak mencapai kediktatoran tingkat tinggi. Setiap anak laki-laki yang lahir harus dibunuh dan kesombongannya telah akut hingga mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Datanglah seorang pemuda yang bernama Musa yang langsung bersuara lantang sebagai bentuk perlawanan ke jangtung istana Fir’aun sang bapak angkat yang akhirnya ditenggelamkan di dasar laut merah. Perlawanan ini mengispirasi generasi dan kaumnya bahkan hingga generasi masa kini.

Hatta muda saat itu masih di Belanda, menuntut ilmu dinegeri yang sedang menguras kekayaan bangsanya yg dijajah. Berkumpul sesama anak negeri yang mendapat kesempatan  menimba ilmu untuk membuat gerakan agar bangsa lepas dari penderitaan imperialisme asing. Setelah kembali ketanah air terus melakukan perlawanan dan sejarah mengantarnya bersama Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia.

Ketika itu Ibu pertiwi dalam genggaman penjajah bangsa asing yang silih berganti. Setiap daerah yang menyusun gugusan zamrud khatulistiwa memiliki organisasi kepemudaan yang beraneka ragam dan berjuang sendiri-sediri tanpa terkoordinasi dan sistematis. Kesadaran itu entah tumbuh darimana? itu bukan soal, yang jelas nalar mereka begitu peka terhadap realitas di depan mata dan gelora muda terbakar dengan merahnya. Mereka berkumpul dengan puncak sebuah sumpah menyatakan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. 

Sejarah kemudian mengenal sumpah itu sebagai sumpah pemuda 28 Oktober 1928, sumpah yang resonansinya masih menggetar hingga hari ini jauh melintasi jamannya dengan rentang waktu yang begitu lama. Inspirasinya terus menjadi spirit semua anak bangsa.

Mereka adalah anak-anak muda, pemilik energy jiwa, penggenggam masa depan, perekat semua puncak potensi fitrah kemanusiaan, yang selalu mengisi jejak jaman, berkata lantang, berdiri kokoh dalam gugusan idealisme, tak gentar menghadapi semua tantangan, menginspirasi wajah bangsa dan anak negeri hari ini dan akan datang.


Jafana Garden, 28 Oktober 2013


IWAN Wahyudi
www.iwan-wahyudi.com

Jumat, 25 Oktober 2013




Pagi di Puncak Gunung Rinjani Iwan Wahyudi

Pagi, ketika semua aktifitas hari dimulai dengan semua rahasianya. Ia adalah lembaran baru yang kita rangkai dalam buku kehidupan, melanjutkan catatan sejarah hari kemarin untuk disambung dalam catatan esok hari.

Pagi, ketika semua energi masih tersimpan penuh. Aturlah sirkulasi dan pelepasan energi kita berdasarkan kebutuhan prioritas dan asas kemanfaatan serta produktifitas. Jangan sampai saat aktivitas utama kita kehabisan energi sehingga peluang lepas dari tangan.

Pagi, ketika pikiran baru tersadar dan jernih. Gunakan ia untuk mendata semua ide-ide besar dan cemerlang sebelum terkotori dengan kesumpekan aktifitas yang kadang mempengaruhi daya cerdas pikiran.

Pagi, saat lembaran baru kertas amal hari yang bersangkutan. Catatlah walau beberapa point penting apa yang akan kita lakukan hari itu agar bisa diselesaikan secara runut , sistematis dan terukur, jangan sampai aga hal-hal sepele diluar perencanaan mengacaukan agenda karena agenda utama terlupakan.

Pagi, Awal dari semua gerak dan amal tiap hari. Saat  memulai langkah, awali dengan mengecek kembali niat agar benar-benar bersih hanya karena-Nya dan tersenyumlah menghadapi awal kehidupan yang akan menjejaki karena ia adalah rekam jejak yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Jafana Garden 26 Oktober 2013

IWAN Wahyudi
www.iwan-wahyudi.com

Jumat, 18 Oktober 2013





Hidup tak selama dilalui dengan lurus dan penuh kebahagiaan. Ia bagai roda yang terus berputar tanpa henti, hari ini bahagia sesaat berikutnya duka, kini penuh dengan kegembiraan dilain waktu mendapat musibah dan ujian. Saat mendapati musibah tak sedikit diantara kita yang menghadapinya dengan putus asa menganggapnya lebih dari kemampuan diri bahkan sampai berujung bunuh diri. Dalam setiap musibah pasti ada cinta diantara sudut-sudutnya yang membuatnya menjadi kebahagiaan.
Ketika telah menemukan sudut indah bernama cinta dalam musibah yang dihadapi maka akan kita sadari bahwa musibah itu sebenarnya sangat bermanfaat bagi kita sendiri dan tak pernah lagi kita akan mencacinya.
Musibah mengukur kemampuan diri
Saat musibah, kita dapat melihat daya tahan  personal baik materi,emosi,fisik maupun pikiran. Kadang musibah itu berupa kekurangan Materi sehingga stabilitas dan pengaturan (manajemen) financial kita diuji sampai sejauh mana. Banyak manusia yang mengalami gangguan emosional (mudah marah) ketika mendapatkan musibah, pada saat itu kita dapat mengetahui pada titik mana kemampuan terendah kita bisa mengendalikan emosi. Saat musibah kita dipacu berpikir lebih kuat agar dapat keluar dari musibah dengan secepatnya, tidak semua orang dapat berpikir cepat dan tepat pada saat kondisi tertekan dan kekurangan sehingga melahirkan rumus-rumus baru untuk keluar mengakhiri musibah.
Musibah cara menemukan solusi kehidupan
Solusi-solusi atas permasalahan kehidupan kita dapatkan dalam setiap musibah yang menimpa. Mungkin ketika saat normal terbiasa dengan hal-hal yang membuat terlena. Ketika seorang siswa atau mahasiswa menghadapi soal-soal ujian dia dipaksa memutar otaknya mengingat kembali semua pelajaran yang telah diterima dan disimpan dalam memorinya kemudian memakai semua rumus-rumus tersebut sesuai dengan formula soal yang didapatkannya sehingga menghasilkan jawaban yang benar. Ada banyak formulasi solusi kehidupan yang kita dapatkan setelah melalui musibah dan tak jarang solusi itu juga berguna ketika dikemudian hari kita menemukan musibah serupa sehingga dapat keluar lebih cepat saat musibah yang serupa.
Musibah menambah cinta
Cinta itu tak selamanya akan tumbuh, mekar dan bersemi hanya dengan hal-hal yang menggembirakan. Cinta itu indah ketika meminta pengorbanan dan melalui jalan berliku. Musibah dan ujian bagi orang beriman adalah sebuah prosesi kenaikan tingkat keimanan, bentuk cinta sang pencipta manusia pada ciptaan-Nya. Bentuk lain dari cara menumbuhkan rasa cinta dan syukur atas banyak nikmat yang telah di berikan-Nya . Saat berhasil melalui rintangan dan ujian maka akan makin besar rasa cinta dan kepemilikan kita terhadap hal-hal yang diujikan-Nya. Dalam setiap musibah ada bentuk pesan dan rasa cinta yang Rabb kita berikan pada setiap hamba-Nya.
                Saat ujian dan musibah apapun dan seberat apapun datang menyapa kehidupan kita, mari kita cari sudut-sudut cinta yang dibawanya agar dalam menghadapi setiap kesulitan dan lika-likunya menghadirkan rasa lapang dan spirit keluar darinya dengan cinta dan rasa suka cita.

Jafana Garden 19102013
IWAN Wahyudi

Kamis, 17 Oktober 2013




Interaksi kita sesama manusia meninggalkan banyak hal. Ada yang meninggalkan kenangan tak terlupakan bahkan tak jarang menggores luka yang sulit disembuhkan. Tentunya dalam setiap interaksi kita menginginkan sesuatu yang menyenangkan dan membahgiakan baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang menjadi teman dalam berinteraksi.

Dunia interaksi lebih pada menyambung rasa antara dua atau lebih hati manusia. Menyambungnya perlu perantara yang bisa menghubungkan antarnya dengan daya dan tegangan yang setara.

Begitu indahnya agama Islam yang membuat aturan agar  menebar salam di awal interaksi, walau itu hanya berpapasan beberapa detik diperjalanan.

“ Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi?. Sebarkalah salam diantara kalian”. (HR.Muslim)

Secara adab dan etikanya yang mengawali mengucap salam adalah yang memiliki level lebih tinggi. Yang berkendara kepada yang tidak, yang berdiri kepada yang duduk. Betapa indahnya, ketika memiliki kedudukan lebih diminta lebih dahulu mengucap doa keselamatan. Ada isyarat bahwa jika kelebihan kita tak membuat lupa untuk berbagi walau sekedar sekelumit do’a kepada sesama. Coba bayangkan jika hal itu dibalik tentu akan menimbulkan sikap angkuh dan sombong pada manusia yang memiliki kedudukan lebih dan tentu salam akan lebih banyak bertepuk sebelah tangan. Bagi yang diam harus memulai memberi salam pada yang berkendara. Tentu sang pengendara banyak tak mendengar karena focus menatap kedepan agar berkendara dengan selamat.

Salam tidak harus diucapkan kepada orang yang sudah kita kenal tapi dengan siapapun yang kita temui. Karena dari salam mengalir semangat persatuan yang bermula dengan interaksi saling mengucap dan menjawab salam. Semangat persatuan itu lahir dari tautan hati sesama muslim, yang melintasi territorial dan sektoral. Tautan banyak hati yang bermuara pada Jiwa persaudaraan orang-orang yang beriman.

Jafana Garden. Senja, 19092013
IWAN Wahyudi