Rabu, 12 November 2014
12.58
Iwan Wahyudi
Hidup ini tak terlepas dari dua
sisi yang selalu meliputi makhluk bernama manusia, senang dan sedih, gembira
dan susah. Ia datang silih berganti, satu menggantikan yang lainnya.
Pernahkah
kita berpikir bahwa susah dan sedih itu sebenarnya bukan ruang yang merampas
sisi gembira dan senang kita, bukan sesuatu yang merenggut senyum dan bahagia.
Bahkan ia adalah dimensi lain dari gembira dan senang yang dititipkan dibalik
rasa susah dan sedih.
Dalam
pandangan umum kebanyakan orang, sakit itu adalah ruang sedih dan susah yang
dialami oleh manusia. Sadarkah kita, bahwa sakitnya seorang hamba yang beriman
akan mengugurkan dosa-dosanya ? siapakah manusia yang tidak merasa bergembira
saat dosa-dosanya diampunkan oleh-Nya?
Setiap
cobaan dan musibah itu dalam penilaian manusia umumnya adalah dimensi kesedihan
dan kesusahan yang dialami.
Pernahkan
sejenak kita renungkan bahwa sesungguhnya setiap musibah yang dialami seorang
hamba itu bisa jadi adalah teguran atau cobaan untuk menaikan level keimanannya?
Setiap
manusia normal pasti bahagia dan senang saat mendapat kesempatan melalui ujian
kenaikan jenjang.
Oleh
karenanya dalam hidup ini selalu dipenuhi oleh kebahagiaan, kegembiraan dan
keceriaan walau tampilannya adalah kesulitan, musibah dan kesedihan. Namun,
takarannya bukan kacamata yang berlaku umum di masyarakat untuk menilainya,
tapi sudut pandang Sang Pencipta.
Jadi
tak ada alasan untuk kita tak bergembira dalam setiap kondisi yang
dianugerahkan-Nya.
12.57
Iwan Wahyudi
Berapapun lamanya sudah kita berada di dunia ini, sebanyak
itulah pengalaman yang telah kita dapatkan, entah sebanyak apalagi hal-hal yang
kita lihat dari ciptaan-Nya telah mempengaruhi laku , telah menyadarkan diri, merubah
langkah dan gerak kita.
Semuanya
tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga baik ia berupa anugerah nikmat
kesenangan maupun cobaan dan musibah yang kadang membuat jiwa lemah.
Namun
itu hanya dapat dirasa oleh diri sendiri, padahal didalamnya kaya akan
pelajaran yang dapat menjadi cermin bagi insan lain, bisa menjadi acuan
pembanding bagi orang lain untuk mengatasi masalah atau motivasi memulai
melakukan sesuatu.
Kita
tak punya cukup waktu untuk menuturkannya pda semua orang yang membutuhkan
kisah kita sebagai nasehat, kita juga tak memiliki cukup materi untuk
menceritakannya pada orang lain dalam luasan wilayah yang sangat membentang,
atau mungkin saja kisah kita berguna saat jatah usia di muka bumi ini usai.
Ide,
pengalaman, nesehat, kisah, pikiran dan lain sebagainya bisa menjadi ilmu bagi
diri kita dan orang lain hari ini atau dimasa yang akan datang. Agar hal itu
tidak hilang dan sirna serta terlupakan, perlu dituliskan narasi-narasi yang
kaya akan manfaat tersebut seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Ad-Darimi “ Kalian ikatlah Ilmu dengan menuliskannya “.
Ya,
saatnya mengikatnya dengan pena kita, toh anugerah menulis sudah kita peroleh
sejak kecil.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)

